Arkeolog Cilik di Petualangan Dinosaurus, Taman Legenda

Abang lagi getol banget cari tahu tentang sejarah dinosaurus. Saat ini buku yang ia baca adalah serial Why? Dinosaur. Gara-gara baca buku itu ia hapal semua jenis dinosaurus dan pembagian berdasarkan zaman hidupnya; yang sering ia sebut-sebut: Zaman Trias, Jura dan Kapur (lalu orangtuanya pusing sendiri, karena bahkan kami nggak tahu kalau dinosaurus itu punya zaman masing-masing :P)

And then, pas banget Taman Mini Indonesia Indah punya wahana baru (mungkin nggak terlalu baru, tapi kami baru tahu hehe…) namanya Taman Legenda; sebuah kompleks taman hiburan yang salah satu wahana utamanya adalah Petualangan Dinosaurus! Oh ya, Taman Legenda terletak  di antara Aquarium Air Tawar dan Keong Mas. Kalau nggak salah dulu di sini lokasi Taman Bunga.

So, di Sabtu yang cerah di bulan September 2016, meluncurlah The Maniks ke sana. Beruntung perjalanan tidak terlalu macet dan kondisi TMII tidak terlalu ramai.

Saat weekend, Taman Legenda buka sampai jam 20:00

Untuk menikmati Taman Legenda, di luar tiket masuk TMII, ada tiket masuk Taman Legenda sebesar Rp 25.000,- Lalu nanti tiap wahana di dalam Taman Legenda ada harga tiketnya masing-masing. Setiap pengunjung akan mendapatkan gelang karet barcode, namanya gelang RFID (Radio Frequency Identification) yang nanti akan discan di tiap wahana yang dimasuki plus dapat berguna juga untuk membeli snack, minuman dan souvenir.

Minimal deposit pengisian gelang adalah Rp 50.000, tapi saran kami, isi deposit yang banyak sekalian supaya tidak bolak-balik isi ulang karena toh saat kita pulang, sisa uang akan dikembalikan utuh. Atau, kalau mau sekalian beli tiket terusan. Oh ya, untuk anak berusia di bawah 2 tahun, masuknya masih free.

dscf4028
Daftar tiket per September 2016

Okay, setelah urusan beli tiket, kami masuk ke area pemeriksaan barang.  Jadi kalau masuk ke sana dilarang bawa makanan/minuman bermerk dan akan diminta untuk dititipkan. Kalau pakai kotak makan dan botol minum sendiri, pengalaman waktu itu sih dibolehin. Yap setelah semua urusan beres barulah kita mulai berpetualang.

Pertama-tama kita akan disambut oleh pohon yang bisa bercerita dengan suara ala-ala Si Komo gitu (suara Kak Seto). Suaranya berat dan buat anak-anak saya, pohon itu tidak menarik. Jadi kami skip langsung menuju taman Petualangan Dinosaurus.

dscf4030
Bibirnya seksi 🙂

 

Begitu sampai pintu gerbang kami disambut oleh Petronadon yang terbang sambil berteriak…uak uak. Si Boru mulai panik sementara Abang takut ketiban 😂 Kami jalan lagi sampai bertemu toko souvenir. Lumayan lucu boneka dan mainan Dino yang dijual. Nggak norak dan bentuknya rapi, tapi kami skip, hanya beli stiker Taman Legenda, walau Boru mulai merengek minta boneka.

dscf4040
Are you ready to meet Dinosaur?

 

Kami masuk ke dalam wahana setelah me-scan gelang barcode dan langsung disambut oleh dilophosaurus yang bisa nyemprot air dari mulutnya. Seru, karena kita harus buru-buru lari kalau nggak mau basah, dan Boru sudah peluk papinya super erat.

Siap-siap disembur

Setelah itu bagai jalan masuk ke hutan, di kiri kanan kami bertemu banyak jenis dinosaurus, dan Abang bagaikan arkeolog merangkap tour guide menjelaskan masing-masing nama jenis dan deskripsinya. W.O.W banget karena ketika kami cocokkan di papan keterangannya, ulasan Abang benar semua.

Semakin banyak Abang cerita tentang dinosaurus, semakin Boru peluk erat Papinya. Bentuk dino yang besar, bisa bergerak dan bersuara kencang rupanya kurang cocok untuk Boru (padahal gadis ini kalau nonton film Jurassic Park sama Abangnya di rumah nggak pernah takut. Mungkin dia baru sadar kalau film itu nyata hehe). Alhasil Boru sepanjang jalan sibuk ngomel, “Adik tak suka. Adik tak suka,” tapi untunglah nggak sampai nangis.

This slideshow requires JavaScript.

Nggak sangka perjalanan berakhir. Hiks…tamannya tidak terlalu luas, dan di ujung ada kolam pasir dan peralatan penggalian serta fosil-fosilan untuk anak-anak yang mau bermain jadi arkeolog. Cuma perpaduan pasir dan siang yang terik nggak bikin Abang Boru tertarik untuk mencoba. Jadinya kita keluar dari wahana ini dan mulai mengunjungi wahana lain.

Di sana ada permainan kincir raksasa, kuda-kudaan, mobil gowes, museum asmat, kolam renak anak, naik kuda, dll. Setiap permainan ada HTMnya masing-masing, dan dibayar dengan mengurangi deposit kita, jadi lebih baik isi banyak sekalian atau beli tiket terusan supaya waktu bermainnya lebih efektif.

This slideshow requires JavaScript.

What we love:

Wahana Petualangan Dinosaurus dibuat dengan serius (walau koleksi dino-nya kurang banyak, tapi kalau based on serial Jurassic Park, sebagian besar serupa). Pada saat ke sana, kondisi taman tidak terlalu ramai, jadi tidak perlu antri untuk main ini itu. Tamannya pun bersih dan rapi. Anak-anak secara umum suka.

Direkomendasikan untuk keluarga dengan anak-anak usia balita sampai kelas 6 SD.

The Maniks

Advertisements

Unhappy Moment at Singapore (th 2013)

Mulai dari tahun 2011, setiap tahunnya saya menargetkan diri dan keluarga untuk traveling. Padahal juga awalnya saya paling malas kalau disuruh traveling. Terutama proses “di jalannya”. Kalau bisa kejadian, saya lebih suka kedipin mata tahu-tahu udah sampai di tempat tujuan. Apalagi kalau via jalan darat. Males macet dan duduk lama-lama di mobil. Nah, mulai 2011 itu, berbekal tiket pesawat murah dari suatu maskapai yang memang eksis banget nawarin tiket dengan harga mulai 0 rupiah, akhirnya saya jadi hobi jalan-jalan.

1236384_10201438675361549_235682406_n
Sampai Changi!

Nah di tahun 2013 ini, giliran kami sekeluarga (saya, suami, Abang plus adik perempuan dan 3 teman kampusnya) traveling ke Singapura. Saya pribadi sudah 2 kali pergi ke negeri Singa itu. Sekali waktu masih SMP dan kuliah, tapi tetap saja yang namanya pergi ke suatu tempat asing, apalagi sekarang mengajak suami dan anak yang belum pernah ke sana (plus tanpa orang tua), jadi tantangan tersendiri buat saya.

Berhubung saya orangnya mudah panik kalau ada sesuatu yang tidak sesuai rencana, maka dari Jakarta saya sudah well prepared semua hal, mulai dari bayangan transportasi, jalur perjalanan selama di Singapura dan perkiraan mau makan apa saja di sana. Sayangnya ada satu hal penting yang tidak saya buat perencanaan matangnya, yaitu Abang. Saya mengajak Abang, balita saya yang usianya baru 3,5 tahun. Saya hanya berpikir, sungguh beruntung Abang sudah lepas diapers (kecuali saat tidur, karena saya tidak mau berisiko kasur hostel kami basah dan tidak ada gantinya), tidak lagi minum susu botol dan fleksibel makan apa saja. Hal-hal itu membuat saya berpikir Abang akan menyenangkan diajak jalan-jalan.

Singapura terkenal sebagai negara yang sangat disiplin. Tidak boleh buang sampah sembarangan, termasuk makan di sembarang tempat. Saat naik MRT dari bandara ke hostel kami Bunc Radius Hostel (Clarke Quay), saya mulai berpikir untuk meralat pendapat “menyenangkan diajak jalan-jalan”. Abang tiba-tiba emosi. Dia teriak-teriak “Minta roti, minta roti!” dan susah sekali dibujuk. Stress pun dimulai.

Stress selanjutnya adalah ketika kamar hostel kami, yang walaupun tersendiri dan tidak bercampur dengan tamu lain, ternyata memiliki posisi yang berhadapan dengan kamar lain. Abang yang sedang hobi bicara, teriak-teriak dan nyanyi super duper perlu selalu diingatkan untuk menurunkan volume suaranya. Super stress. Hostelnya sih cukup menyenangkan. Yah lumayanlah, tapi rasanya tidak untuk anak super aktif seperti anakku. Next time kalau ke Singapura, mungkin saya akan pilih tinggal di hotel yang lebih privat.

Camera 360
Mukanya bete…
575243_10201438755323548_1212497061_n
Ini salah satu dari banyak foto dimana dia nutupin mukanya -_-

Seolah belum selesai membuat kami stress (yah buat Abang pasti tidak ada maksud untuk bikin orangtuanya stress), Abang selalu rewel pengin pulang ke hostel dan main lift (yes, dia lagi hobi pencet-pencet angka lift). Dia tidak interest dengan tempat-tempat baru yang kami datangi. Bahkan ketika pergi ke Jurong Bird Park, yang harusnya dia suka, mengingat kegemarannya dengan burung-burung, Abang hanya pasang wajah bete dan tidak mau difoto sama sekali. Alhasil foto-foto kami selalu diisi dengan wajah orang tua yang exciting, sementara Abang bete di strollernya hehehe…

Camera 360
Kapan sih, kita pulang? Ngantuk nih…

Hari berikutnya pergi ke Universal Studio Singapore, Abang kembali masih manyun dan tidak tertarik main apapun. Kalaupun akhirnya kita ‘memaksa’ dia masuk ke arena permainan, wajahnya tetap saja bete dan ogah difoto 🙂 Moodnya baru meningkat lebih baik ketika kami ajak dia menonton Song of the Sea. Air mancur, laser dan kembang api ternyata membuat wajah Abang lebih ceria, dan mulai heboh lagi 🙂

Camera 360
Ekspresinya pas sih sama artistnya 🙂

Tapi sayangnya begitu moodnya meningkat, kami harus kembali pulang ke tanah air. Setelah aku menganalisa, ternyata kesalahan terjadi di kami orangtuanya. Sebelumnya Abang pernah diajak pergi ke Eropa, dan ia menyebutnya traveling ke Ave-Ave (sebutannya untuk kota Lourdes,Perancis yang identik dengan penampakan Bunda Maria). Nah, untuk memudahkan Abang membayangkan kita akan kemana, kami selalu bilang, kita mau pergi ke Ave-ave (sama-sama luar negeri). Tapi ternyata Abang sadar kalau negara yang kami kunjungi ini bukan Eropa (gaya bener memang nih bocah :p) makanya dia merasa seperti dibohongi dan kurang exciting.

620490_10201438865446301_1225333068_o
Foto wajib kalau di Universal Studio

Selain itu, kurasa perjalanan kami yang naik turun MRT bikin dia capek, yang kemudian ditunjang dengan kamar hostel yang kurang nyaman buat dia istirahat. Sedih sih, rasanya kami sudah bikin liburan yang tidak membahagiakannya.

Sesampainya di Jakarta aku tanya Abang, “Bagaimana jalan-jalannya, senang tidak? Mau ke Singapura lagi?” Dia hanya menjawab, “Aku mau pergi ke Ave-ave. Nggak mau ke Singapura.” Okay, case closed. Mami Papi minta maaf ya Nak. Tahun depan kalau ada rejeki, kita pergi ke tempat lain dan Mami akan lebih mempersiapkan segala hal yang lebih menyenangkan untuk kamu 🙂

~ Mami ~