Blog

Tips Membedakan The Balm Meet Matt(e) Asli vs Palsu

Suatu kali saya menang sebuah kuis dan mendapatkan hadiah liquid lipstick The Balm Meet Matt(e) Hughes – Charming. Warnanya bagus dan cocok di bibir saya, plus after effect-nya yang juara, yaitu tetap membuat bibir saya lembab. Bibir saya aslinya pucat, kering dan macam orang kurang vitamin. Berhubung baru kali ini bertemu dengan lipstik yang pas di bibir, setelah sebelumnya mengalami perasaan luka mendalam (pada bibir) tiap mencoba lipstik-lipstik lain yang katanya lagi happening, mulailah saya ngepot ke counter The Balm untuk beli warna-warna yang lain. Tapi oh tapi, ternyata oh ternyata, kenapa harganya mahal banget siiihh… per September 2016 saya cek di counter Plaza Indonesia Rp 260.000,- saja 😦

Uang segitu untuk beli lipstik? Mendingan buat beli novel deh atau ngajak anak-anak wisata. Lalu menurut info dari teman, The Balm bisa beli online kok dan ternyata harganya jauh lebih murah. Memang kebanyakan produknya KW tapi ada juga yang jual original dengan harga yang tetap jauh lebih murah (setengah dari harga di counter). Kok bisa beda harga? Apa karena kalau di counter ada biaya sewa? Bisa jadi, dan juga banyak penyebab lain. Berhubung saya juga juarannng buanget beli lipstik (pada saat itu belum kena virus lipstick_holic) dan belum punya langganan OS kosmetik, maka saya mulai berburu OS yang menjual The Balm Meet Matt(e) Hughes.

Produk yang saya cari tetap yang original. Bisa makin terbelah-belah nih bibir kalau nekad pakai barang KW. Dan setelah melakukan riset tiap OS satu persatu, sampailah saya pada satu akun IG yang saya tulis di gambar, yang menjual (katanya) produk original dengan harga Rp 150.000,- saja. OS tersebut menyatakan dengan lantang kalau produk yang ia jual adalah produk original, dan bahkan berulang kali menegaskan kalau dia tidak menjual barang KW. Jumlah follower dan testimonialnya menurut saya pun cukup dapat dipercaya.

Proses pembelian berjalan lancar sampai ketika barang sampai….jreng-jreng, kamu ketahuan!

  1. Packagingnya beda. Botolnya lebih panjang sedikit. Print outnya nggak clear. Fotokopian banget.
  2. Aplikatornya pink! Lebih panjang dan nggak ergonomis banget pas dipakai.
  3. Lalu yg paling mencolok adalah, nggak ada rasa-rasa The Balm-nya a.k.a dingin-dingin segar. Cem mana The Balm tanpa rasa balm? Aroma yang keluar dari produk abal-abal ini adalah vanila campur krayon.
  4. Efek di bibir? Kaku dan setelah itu bibir saya kering plus pecah-pecah.

Akhirnya complain ke OS dan ditanggapi dengan respon, “Maaf saya gak tahu karena kata suppliernya asli,” dan juga nggak ada inisiatif untuk bertanggung jawab

Lalu bagaimana akhirnya? Saya buat prakaryaan aja lipstiknya. Buat ngewarnain apa kek. Buat properti foto juga bisa. Geram. Pelajaran buat saya, lain kali beli di OS yang pasti-pasti aja (cari yang ada websitenya, dan memang direkomendasikan oleh para beauty blogger), dan akhirnya setiap mau beli produk The Balm, saya beli dari OS asli The Balm Indonesia, makeupaddict (ada IG-nya juga). Pada saat-saat tertentu diskonnya lumayan loh.

~ Mami ~

Advertisements

Jago Akting

Yah Dedek bobok.

Suatu pagi Boru sudah bangun dan nemenin Mami Papinya ganti baju sebelum ke kantor. Boru duduk di lantai senderan ke kasur.

Papi: “Dek, Mami Papi mau kerja dulu ya. Abang juga mau sekolah. Dedek di rumah sama Mak Nek ya. Nanti pintar di rumah. Maem, main sama Mak Nek…”

Lalu tiba-tiba terdengar suara ngorok yang dibuat-buat, dan ternyata si Boru pura-pura merem.

Papi: “Yah Dedek bobok.”

Habis itu dia melek terus ketawa-ketawa. Papi kebanyakan pesan-pesan sih. Adek malas dengerinnya 😛

Boru, saat usia 23 bulan

Arkeolog Cilik di Petualangan Dinosaurus, Taman Legenda

Abang lagi getol banget cari tahu tentang sejarah dinosaurus. Saat ini buku yang ia baca adalah serial Why? Dinosaur. Gara-gara baca buku itu ia hapal semua jenis dinosaurus dan pembagian berdasarkan zaman hidupnya; yang sering ia sebut-sebut: Zaman Trias, Jura dan Kapur (lalu orangtuanya pusing sendiri, karena bahkan kami nggak tahu kalau dinosaurus itu punya zaman masing-masing :P)

And then, pas banget Taman Mini Indonesia Indah punya wahana baru (mungkin nggak terlalu baru, tapi kami baru tahu hehe…) namanya Taman Legenda; sebuah kompleks taman hiburan yang salah satu wahana utamanya adalah Petualangan Dinosaurus! Oh ya, Taman Legenda terletak  di antara Aquarium Air Tawar dan Keong Mas. Kalau nggak salah dulu di sini lokasi Taman Bunga.

So, di Sabtu yang cerah di bulan September 2016, meluncurlah The Maniks ke sana. Beruntung perjalanan tidak terlalu macet dan kondisi TMII tidak terlalu ramai.

Saat weekend, Taman Legenda buka sampai jam 20:00

Untuk menikmati Taman Legenda, di luar tiket masuk TMII, ada tiket masuk Taman Legenda sebesar Rp 25.000,- Lalu nanti tiap wahana di dalam Taman Legenda ada harga tiketnya masing-masing. Setiap pengunjung akan mendapatkan gelang karet barcode, namanya gelang RFID (Radio Frequency Identification) yang nanti akan discan di tiap wahana yang dimasuki plus dapat berguna juga untuk membeli snack, minuman dan souvenir.

Minimal deposit pengisian gelang adalah Rp 50.000, tapi saran kami, isi deposit yang banyak sekalian supaya tidak bolak-balik isi ulang karena toh saat kita pulang, sisa uang akan dikembalikan utuh. Atau, kalau mau sekalian beli tiket terusan. Oh ya, untuk anak berusia di bawah 2 tahun, masuknya masih free.

dscf4028
Daftar tiket per September 2016

Okay, setelah urusan beli tiket, kami masuk ke area pemeriksaan barang.  Jadi kalau masuk ke sana dilarang bawa makanan/minuman bermerk dan akan diminta untuk dititipkan. Kalau pakai kotak makan dan botol minum sendiri, pengalaman waktu itu sih dibolehin. Yap setelah semua urusan beres barulah kita mulai berpetualang.

Pertama-tama kita akan disambut oleh pohon yang bisa bercerita dengan suara ala-ala Si Komo gitu (suara Kak Seto). Suaranya berat dan buat anak-anak saya, pohon itu tidak menarik. Jadi kami skip langsung menuju taman Petualangan Dinosaurus.

dscf4030
Bibirnya seksi 🙂

 

Begitu sampai pintu gerbang kami disambut oleh Petronadon yang terbang sambil berteriak…uak uak. Si Boru mulai panik sementara Abang takut ketiban 😂 Kami jalan lagi sampai bertemu toko souvenir. Lumayan lucu boneka dan mainan Dino yang dijual. Nggak norak dan bentuknya rapi, tapi kami skip, hanya beli stiker Taman Legenda, walau Boru mulai merengek minta boneka.

dscf4040
Are you ready to meet Dinosaur?

 

Kami masuk ke dalam wahana setelah me-scan gelang barcode dan langsung disambut oleh dilophosaurus yang bisa nyemprot air dari mulutnya. Seru, karena kita harus buru-buru lari kalau nggak mau basah, dan Boru sudah peluk papinya super erat.

Siap-siap disembur

Setelah itu bagai jalan masuk ke hutan, di kiri kanan kami bertemu banyak jenis dinosaurus, dan Abang bagaikan arkeolog merangkap tour guide menjelaskan masing-masing nama jenis dan deskripsinya. W.O.W banget karena ketika kami cocokkan di papan keterangannya, ulasan Abang benar semua.

Semakin banyak Abang cerita tentang dinosaurus, semakin Boru peluk erat Papinya. Bentuk dino yang besar, bisa bergerak dan bersuara kencang rupanya kurang cocok untuk Boru (padahal gadis ini kalau nonton film Jurassic Park sama Abangnya di rumah nggak pernah takut. Mungkin dia baru sadar kalau film itu nyata hehe). Alhasil Boru sepanjang jalan sibuk ngomel, “Adik tak suka. Adik tak suka,” tapi untunglah nggak sampai nangis.

This slideshow requires JavaScript.

Nggak sangka perjalanan berakhir. Hiks…tamannya tidak terlalu luas, dan di ujung ada kolam pasir dan peralatan penggalian serta fosil-fosilan untuk anak-anak yang mau bermain jadi arkeolog. Cuma perpaduan pasir dan siang yang terik nggak bikin Abang Boru tertarik untuk mencoba. Jadinya kita keluar dari wahana ini dan mulai mengunjungi wahana lain.

Di sana ada permainan kincir raksasa, kuda-kudaan, mobil gowes, museum asmat, kolam renak anak, naik kuda, dll. Setiap permainan ada HTMnya masing-masing, dan dibayar dengan mengurangi deposit kita, jadi lebih baik isi banyak sekalian atau beli tiket terusan supaya waktu bermainnya lebih efektif.

This slideshow requires JavaScript.

What we love:

Wahana Petualangan Dinosaurus dibuat dengan serius (walau koleksi dino-nya kurang banyak, tapi kalau based on serial Jurassic Park, sebagian besar serupa). Pada saat ke sana, kondisi taman tidak terlalu ramai, jadi tidak perlu antri untuk main ini itu. Tamannya pun bersih dan rapi. Anak-anak secara umum suka.

Direkomendasikan untuk keluarga dengan anak-anak usia balita sampai kelas 6 SD.

The Maniks

Tak Mau Dewasa Sebelum Waktunya

Jadi kayak ibu-ibu.

Suatu hari Boru akan pergi ke pesta pernikahan dan Mami memakaikan kebaya brokat + tank top hitam untuk outfitnya. Waktu lagi pakai tank top,

Boru : “Ini baju Mami,” sambil nunjuk tank top-nya. Nggak mau pakai.

Mami: “Nggak kok, ini punya adek. Sudah Mami jahitin kecil buat adek. Mirip punya Mami ya?”

Boru: (mukanya bete) “Ah, adek jadi kayak ibu-ibu.”

Boru, usia 2 tahun, 2 bulan. 

Unhappy Moment at Singapore (th 2013)

Mulai dari tahun 2011, setiap tahunnya saya menargetkan diri dan keluarga untuk traveling. Padahal juga awalnya saya paling malas kalau disuruh traveling. Terutama proses “di jalannya”. Kalau bisa kejadian, saya lebih suka kedipin mata tahu-tahu udah sampai di tempat tujuan. Apalagi kalau via jalan darat. Males macet dan duduk lama-lama di mobil. Nah, mulai 2011 itu, berbekal tiket pesawat murah dari suatu maskapai yang memang eksis banget nawarin tiket dengan harga mulai 0 rupiah, akhirnya saya jadi hobi jalan-jalan.

1236384_10201438675361549_235682406_n
Sampai Changi!

Nah di tahun 2013 ini, giliran kami sekeluarga (saya, suami, Abang plus adik perempuan dan 3 teman kampusnya) traveling ke Singapura. Saya pribadi sudah 2 kali pergi ke negeri Singa itu. Sekali waktu masih SMP dan kuliah, tapi tetap saja yang namanya pergi ke suatu tempat asing, apalagi sekarang mengajak suami dan anak yang belum pernah ke sana (plus tanpa orang tua), jadi tantangan tersendiri buat saya.

Berhubung saya orangnya mudah panik kalau ada sesuatu yang tidak sesuai rencana, maka dari Jakarta saya sudah well prepared semua hal, mulai dari bayangan transportasi, jalur perjalanan selama di Singapura dan perkiraan mau makan apa saja di sana. Sayangnya ada satu hal penting yang tidak saya buat perencanaan matangnya, yaitu Abang. Saya mengajak Abang, balita saya yang usianya baru 3,5 tahun. Saya hanya berpikir, sungguh beruntung Abang sudah lepas diapers (kecuali saat tidur, karena saya tidak mau berisiko kasur hostel kami basah dan tidak ada gantinya), tidak lagi minum susu botol dan fleksibel makan apa saja. Hal-hal itu membuat saya berpikir Abang akan menyenangkan diajak jalan-jalan.

Singapura terkenal sebagai negara yang sangat disiplin. Tidak boleh buang sampah sembarangan, termasuk makan di sembarang tempat. Saat naik MRT dari bandara ke hostel kami Bunc Radius Hostel (Clarke Quay), saya mulai berpikir untuk meralat pendapat “menyenangkan diajak jalan-jalan”. Abang tiba-tiba emosi. Dia teriak-teriak “Minta roti, minta roti!” dan susah sekali dibujuk. Stress pun dimulai.

Stress selanjutnya adalah ketika kamar hostel kami, yang walaupun tersendiri dan tidak bercampur dengan tamu lain, ternyata memiliki posisi yang berhadapan dengan kamar lain. Abang yang sedang hobi bicara, teriak-teriak dan nyanyi super duper perlu selalu diingatkan untuk menurunkan volume suaranya. Super stress. Hostelnya sih cukup menyenangkan. Yah lumayanlah, tapi rasanya tidak untuk anak super aktif seperti anakku. Next time kalau ke Singapura, mungkin saya akan pilih tinggal di hotel yang lebih privat.

Camera 360
Mukanya bete…
575243_10201438755323548_1212497061_n
Ini salah satu dari banyak foto dimana dia nutupin mukanya -_-

Seolah belum selesai membuat kami stress (yah buat Abang pasti tidak ada maksud untuk bikin orangtuanya stress), Abang selalu rewel pengin pulang ke hostel dan main lift (yes, dia lagi hobi pencet-pencet angka lift). Dia tidak interest dengan tempat-tempat baru yang kami datangi. Bahkan ketika pergi ke Jurong Bird Park, yang harusnya dia suka, mengingat kegemarannya dengan burung-burung, Abang hanya pasang wajah bete dan tidak mau difoto sama sekali. Alhasil foto-foto kami selalu diisi dengan wajah orang tua yang exciting, sementara Abang bete di strollernya hehehe…

Camera 360
Kapan sih, kita pulang? Ngantuk nih…

Hari berikutnya pergi ke Universal Studio Singapore, Abang kembali masih manyun dan tidak tertarik main apapun. Kalaupun akhirnya kita ‘memaksa’ dia masuk ke arena permainan, wajahnya tetap saja bete dan ogah difoto 🙂 Moodnya baru meningkat lebih baik ketika kami ajak dia menonton Song of the Sea. Air mancur, laser dan kembang api ternyata membuat wajah Abang lebih ceria, dan mulai heboh lagi 🙂

Camera 360
Ekspresinya pas sih sama artistnya 🙂

Tapi sayangnya begitu moodnya meningkat, kami harus kembali pulang ke tanah air. Setelah aku menganalisa, ternyata kesalahan terjadi di kami orangtuanya. Sebelumnya Abang pernah diajak pergi ke Eropa, dan ia menyebutnya traveling ke Ave-Ave (sebutannya untuk kota Lourdes,Perancis yang identik dengan penampakan Bunda Maria). Nah, untuk memudahkan Abang membayangkan kita akan kemana, kami selalu bilang, kita mau pergi ke Ave-ave (sama-sama luar negeri). Tapi ternyata Abang sadar kalau negara yang kami kunjungi ini bukan Eropa (gaya bener memang nih bocah :p) makanya dia merasa seperti dibohongi dan kurang exciting.

620490_10201438865446301_1225333068_o
Foto wajib kalau di Universal Studio

Selain itu, kurasa perjalanan kami yang naik turun MRT bikin dia capek, yang kemudian ditunjang dengan kamar hostel yang kurang nyaman buat dia istirahat. Sedih sih, rasanya kami sudah bikin liburan yang tidak membahagiakannya.

Sesampainya di Jakarta aku tanya Abang, “Bagaimana jalan-jalannya, senang tidak? Mau ke Singapura lagi?” Dia hanya menjawab, “Aku mau pergi ke Ave-ave. Nggak mau ke Singapura.” Okay, case closed. Mami Papi minta maaf ya Nak. Tahun depan kalau ada rejeki, kita pergi ke tempat lain dan Mami akan lebih mempersiapkan segala hal yang lebih menyenangkan untuk kamu 🙂

~ Mami ~

Cerita Mak Nek

“Siapa yang nerusin?”

Mak Nek adalah pengasuhnya Abang dan Boru. Sudah bekerja dari Mami masih kecil hingga sudah dianggap keluarga. Suatu hari Mak Nek bercerita tentang percakapannya dengan Abang.

Mak Nek: “Mami, masa tadi siang Abang ngomong kayak gini ke Mak Nek.”
Mami: “Ngomong apa?”
Mak Nek: “Nek, Abang bingung nih, kalau nanti Eyang Kakung meninggal, siapa yang akan nerusin kerjaan di kantornya ya?”
Mami: “Heh?”

Abang, saat usia 5 tahun

Dewasa oh Dewasa

“Mami kan sudah dewasa”

Suatu hari kami sekeluarga diam di dalam mobil sambil menunggu Eyang belanja di Supermarket. Abang lapar dan minta beli makanan ringan yang ada di parkiran Supermarket.

Mami: “Ya udah, beli yuk. Ayo turun temenin Mami beli makanannya.”
Abang: “Kenapa Abang mesti temenin?”
Mami: “Kan Abang anak cowoknya Mami, mesti jagain Mami. Nanti kalau Mami lagi sendirian diculik bagaimana?”
Abang: “Ah masa gitu aja nggak berani? Mami kan sudah dewasa.”
Mami:……

Abang, saat usia 5 tahun

Susu Strawberry

“Kita kan memang harus berbagi”

Sebelum belanja ke supermarket biasanya kami akan rekap dulu barang-barang apa yang sudah habis. Salah satunya tanya ke Abang tentang stock susu strawberinya

Papi: “Bang, susu strawberi kamu masih ada?”
Abang: “Sudah tinggal sedikit. Tadi diminum Abang sama Tante.”
Mami: “Lain kali bilang sama tante, susu strawberi punya Abang. Jangan diminum.”
Abang: “Nggak apa-apa Mami. Kita kan memang harus berbagi. ”

Abang, saat usia 5 tahun